Laman

Senin, 28 November 2016

manajemen pendidikan



BAB II
PERENCANAAN DAN PENGORGANISASIAN
 DALAM PENDIDIKAN

A.    Pengertian Dasar Perencanaan Pendidikan
            Perencanaan pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses yang sistematis dalam rangka mempersiapkan kegiatan-kegiatan di masa mendatang dalam bidang pendidikan. Udin dan Abin mendefinisikan perencanaan pendidikan sebagai sebuah penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakatnya.[1]
            Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa perencanaan pendidikan mempunyai berbagai unsur penting, yaitu:
1.        Perencanaan pendidikan menggunakan analisis yang bersifat rasional dan sistematik. Hal ini menyangkut metodologi dalam perencanaan.
2.      Perencanaan pendidikan terkait dengan pembanguna pendidikan yang dilakukan dalam rangka reformasi pendidikan, Tujuannya adalah mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan.
3.      Perencanaan pendidikan merupakan kegiatan yang kontinu.
4.      Perencanaan pendidikan menyangkut aspek internal dan eksternal dari keorganisasian sistem pendidikan nasional.
5.      Perencanaan pendidikan mempertimbangkan prinsip efektifitas dan efisiensi.
            Persoalan-persoalan yang dibahas dalam perencanaan pendidikan mencakup (1) tujuan: apakah yang akan dicapai dengan perencanaan tersebut; (2) posisi sistem pendidikan: bagaimanakah keadaan sistem pendidikan sekarang; (3) alternatif kebijakan dan prioritas untuk mencapai tujnuan; (4) strategi; penentuan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan.Karakteristik perencanaaan pendidikan ditentukan oleh konsep dan pemahaman tentang pendidikan. Pendidikan mempunyai ciri unik dalam kaitannya dengan pembangunan nasional dan mempunyai ciri-ciri khas karena yang menjadi muara garapannya adalah manusia sehingga perencanaan pendidikan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Perencanaan pendidikan harus mengutamakan nilai-nilai manusiawi.
2.      Perencanaan pendidikan harus memberi kesempatan untuk mengembangkan segala potensi peserta didik seoptimal mungkin.
3.      Perencanaan pendidikan harus memberikan kesempatan yang sama bagi setiap peserta didik.
4.      Perencanaan pendidikan harus komprehensif dan sistematis.
5.      Perencanaan pendidikan harus diorientasikan pada pembangunan, dalam pengertian bahwa program pendidikan haruslah ditujukan untuk membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh berbagai sektor pembangunan.
6.      Perencanaan pendidikan harus dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitannya dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis.
7.      Perencanaan pendidikan harus menggunakan sumber daya secermat mungkin sebab sumber daya yang tersedia langka.
8.      Perencanaan pendidikan harus berorientasi pada masa depan.
9.      Perencanaan pendidikan harus responsif terhadap kebutuhan yang berkembang di masyarakat.
10.  Perencanaan pendidikan harus merupakan sarana untuk mengembangkan inovasi pendidikan sehingga pembaruan terus-menerus berlangsung.
B.     Ruang Lingkup Perencanaan
            Ruang lingkup perencanaan dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitudimensi waktu, dimensi spasial dan dimensi tingkatan teknis perencanaan. Ketiga dimensi ini sangat terkait antara satu dan lainnya. Penjelasan mengenai ketiga dimensi dalam ruang lingkup perencanaan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut :[2]



No
Dimensi Perencanaan
Ruang Lingkup
Keterangan
1
Dimensi Waktu
Perencanaan jangka panjang
Biasanya berjangka waktu 10 tahun keatas. Pada perencanaan ini belum ditampilkan sasaran-sasaran kuantitatif, tetapi lebih kepada proyeksi atau perspektif atas keadaan ideal yang diinginkan dan pencapaian tujuan yang bersifat fundamental.
Contohnya: Propenas.


Perencanaan jangka menengah
Biasanya berjangka waktu 3-8 tahun. Di Indonesia biasanya 5 taqhun. Perencanaan jangka menengah merupakan penjabaran dari perencanaan jangka panjang. Meski perencanaan jangka menengah ini masih bersifat umum, sudah ditampilkan sasaran-sasaran yang diproyeksikan szecara kuantitatif.
Contohnya: Propeda.


Perencanaan jangka pendek
Perencanaan yang jangka waktunya kurang maksimal 1 tahun. Perencanaan ja ngka pendek tahunan disebut

 juga perencanaan operasional.

2
Dimensi spasial terkait dengan ruang dan batasan wilayah
Perencanaan nasional
Sebuah proses penyusunan perencanaan yang berskala nasional. Contohnya:Perencanaan pendidikan nasional (Propenas)


Perencanaan regional
Perencanaan antar sektor dan hubungan antar sektor dalam suatu wilayah. Perencanaan ini juga sering disebut dengan Perencanaan daerah atau wilayah.Conyohya: Propeda dan perencanaan pendidikan di provinsi.



Perencanna tata ruang
Perencanaa yang mengupayakan pemanfaatan fungsi kawasan tertentu,menhembangkanyya secaqra seimbang baik secara ekologis, geografis, maupun demografis.
 Contoh: perencanaan tata kota.

3
Dimensi tingkatan teknis perencanaan.
Perencanaan makro
Perencanaan makro adalah perencanaan  tentang ekonomi dan non ekonomi secara intensif dan eksternal. Dalam merencanakan pembangunan pendidikan nasional, sebelum dilaksanakan proses perencanaan pendidikan terlebih dahulu diperlukan perencanaan makro yang menggambarkan kerangka makro pendidikan yang berinteraksi satu dan lainnya.



Perencanaan Mikro
Perencanaa yang disusun dan disesuaikanb dengan kondisi otonomi daerah bidang pendidikan.



Perencanaan sektoral
Kumpulan program-program dan kegiatan-kegiatan pendidikan yang mempunyai persamaan ciri-ciri dan tujuan.



Perencanaan kawasan
Perencanaan yang memperhatikan keadaan lingkungan kawasan tertentu sebagai pusat kegiatandengan keunggulan komparatif dan kompetitif tertentu. Contohnya:: Perencanaan pendidikan kawasan Indonesia timur.



Perencanaan proyek
Perencanaan operasional yang menyaqngkut operasionalisasi kebijakan dan pemnbangunan dalam rangka mencapai tujuan sasaran sektor dan tujuan pembangunan.
Perencanaan ini menjawab SIABIDIBAM
 (siapa, melakukan apa,
 bilamana, dimana, bagaimana dan mengapa).





C.    Dasar dan Filosofi Perencanaan Pendidikan
1.      Hakikat Perencanaan Pendidikan
            Inti perencanaan adalah sebuah usaha merancang dan memilih pada waktu sekarang untuk sesuatu yang ingin diwujudkan di masa akan datang (choosing our disired future today). Perencanaan dalam konteks pendidikan berarti pemilihan atau penentuan program / strategi atau langkah yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Perencanaan pendidikan yang dilakukan pada dasarnya adalah wujud tanggung jawab dari berbagai alternatif pilihan yang ada dalam kehidupan. Setiap pilihan yang di ambil pasti mempunyai konsekuensi dari apa yang di pilih. Oleh  karena itulah, memilih untuk merencanakan sesuatu dan menyadari akan konsekuensi yang akan hadir merupakan bentuk tanggung jawab kemanusiaan.
            Hakikat perencanaan pendidikan juga dapat berarti sebuah proses pembuatan peta atau route perjalanan kearah masa depan pendidikan yang di inginkan. Sebagai sebuah proses, perencanaan pendidikan terus akan berjalan tanpa henti, ia akan terus berkembang, memperbarui, dan menyesuaikan diri sepanjang proses perjalanan tersebut.
2.      Pentingnya Perencanaan Pendidikan
            Mengapa kita perlu merencanakan masa depan? Mulyadi memberikan empat jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu:
1)      karena kita adalah manusia;
2)      karena hanya masa depanlah yang dapat kita pilih;
3)      karena perencanaanlah yang menjanjikan hasil baik (good result);
4)      karena kita dapat memusatkan perhatian pada hal-hal penting secara tidak mendesak.
3.      Perencanaan Menjanjikan Hasil Baik
            Perencanaan yang baik dan komitmen menjalankan dengan serius akan menghasilkan sesuatu yang baik. Perencanaan dalam konteks pendidikan menunjukkan bahwa sebuah perencanaan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.Perencanaan memusatkan hal-hal penting secara tidak mendesak. Perencanaan menjadikan keputusan-keputusan penting tidak dilaksanakan secara mendadak, tetapi dengan penuh persiapan dan pertimbangan-pertimbangan. Melalui perencanaan, akan di analisis kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa akan datang dan kemudian di persiapkan strategi menghadapinya.
4.      Falsafah Perencanaan Pendidikan
            Terjadi pergeseran falsafah dalam perencanaan, yaitu dari perencanaan yang didasarkan pada falsafah creating the future from the past atau plan forward ke falsafah baru, yaitu creating the future from the future atau plan backward.Perencanaan falsafah creating the future from the past menggunakan anggapan bahwa apa yang terjadi dimasa lalu akan terjadi kembali di masa akan datang sehingga jika organisasi melakukan studi atas pola peristiwa masa lalu, pola peristiwa di masa lalu tersebut diharapkan berulang kembali di masa depan. Oleh karenanya, perencanaan dengan falsafah creating the future from the past kurang menjanjikan masa depan karena keterputusan masa lalu dengan masa depan.
            Perencanaan dengan falsafah creating the future from the future  pada intinya adalah usaha penerjemahan visi, misi, dan tujuan (goal) organisasi yang dilakukan dengan proses analisis eksternal-internal, trendwatching, envisioning, dan pemilihan strategi kedalam aksi tindakan (action plan).[3] Dalam konten pendidikan, falsafah ini berarti berusaha menghadirkan masa depan pendidikan yang direncanakan pada saat ini, melakukan perilaku-perilaku pendidikan masa depan pada masa sekarang. Hal ini tentu berangkat dari hasil analisis, pembacaan tren (trendwatching) dan envisioning dalam hal pendidikan.


5.      Prinsip-Prinsip Mental dalam Perencanaan
            Perencanaan yang efektif hanya akan terlaksana jika setiap dari anggota dalam organisasi mempunyai kesadaran tinggi tentang pentingnya perencanaan dalam membangun masa depan. Terdapat tiga sikap yang menjadi prinsip mental setiap anggota individu organisasi dalam membangun perencanaan yang efektif  yaitu :
1)      Kesadaran diri (self awareness), dalam pengertian adanya kesadaran bahwa kita sendirilah yang menjadi penentu masa depan kita (we are the creator of our own future);
2)      Tanggung jawab (responsibility) , dalam pengertian memiliki tanggung jawab untuk menuliskan masa depan yang di kehendaki dan langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mewujudkannya (we are responsible for writing our own script).
3)      Intregritas  (intregity) adalah kemampuan seseorang untuk mewujudkan yang telah direncanakannya, intregritas menurut kewajiban bahwa kitalah yang berkewajiban untuk mewujudkan apa yang telah kita rencanakan (we have an obligation to live our own script).
            Ketiga prinsip mental tersebut menjadi landasan dalam pelaksanaan perencanaan. Sebuah perencanaan yang baik (good planning) tanpa didasari oleh sikap mental (mindsets) kesadaran diri, tanggung jawab integritas yang kuat tidak akan pernah menjadi kenyataan.[4]
D.    Proses Perencanaan Pendidikan
            Perencanaan sebagai suatu proses adalah suatu cara yang sistematis untuk menjalankan suatu pekerjaan. Dalam perencanaan terkandung suatu aktivitas tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai hasil tertentu yang diinginkan.[5]
            Langkah-langkah dalam proses perencanaan pada umumnya mencakup bbeberapa tahap, yaitu pengumpulan dan pemrosesan data, diagnosis, perumusan kebijakan, perkiraan kebutuhan masa mendatang, pembiayaan dari kebutuhan, penentuan target, perumusan rencana, perincian rencana, pelaksanaan rencana, penilaian, dan revisi perencanaan kembali.[6]
E.     Model Perencanaan Pendidikan
            Beberapa model perencanaan pendidikan menurut Nanang Fattah:
1.      Model Perencenaan Komprehensif
Model ini dipergunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan.
2.      Model Target Setting
Model ini diperlukana dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurung waktu tertentu.
3.      Model Kosting (Pembiayaan) dan Keefektifan Biaya
Model ini sering diperguanakan untuk menganalisis proyek-proyek dalam kriteria efisien dan efektifitas ekonomis. Model ini dipergunakan dalam pendidikan didasarkan pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak lepas dari masalah pembiayaan. Dan dengan jumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan dalam kurung waktu tertentu dapat memberikan benefit.
4.      Model Planning Programming Budgetting System (PPBS) memandang bahwa sistem perencanaan, penyusunan program dan penganggaran dipandang sebagai suatu sistem yang tak terpisahkan satu sama lainnya.[7]
F.     Pengertian Organisasi Pendidikan
                  Istilah organisasi secara etimologi berasal dari bahasa latin organum yang berarti alat. Sedangkan organize (bahasa Inggris) berarti mengorganisasikan yang menunjukkan tindakan atau usaha untuk mencapai sesuatu. Organizing (pengorganisasian) menunjukkan sebuah proses untuk mencapai sesuatu. Organisasi sebagai salah satu fungsi manajemen sesungguhnya telah banyak didefinisikan oleh para ahli.[8]
                  Gibson, Ivancevich, dan Donnelly (1996:6) mendefinisikan organisasi sebagai “ wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri.”Lebih jauh ketiganya menyebutkan bahwa organisasi adalah suatu unit terkoordinasi terdiri setidaknya dua orang berfungsi mencapai satu sasaran tertentu atau serangkaian sasaran. Definisi ini menekankan pada upaya peningkatan pencapaian tujuan bersama secara lebih efektif dan efisien melalui koordinasi antar unit organisasi.
                  Stephen P. Robbins (1994:4) mendefinisikan organisasi : “kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relative dapat diidentifikasikan, yang bekerja atas dasar yang relative terus menerus untuk mencapai satu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.” Definisi dari Robbins tersebut menekankan bahwa organisasi adalah suatau sistem sosial yang perlu dikooordinasi dalam arti perlu manajemen. Batasan organisasi menurut Robbins akan berubah sebagaimana tuntutan lingkungan organisasi, sehingga dikatakan “relatif.”
                        Definisi lain mengenai organisasi dikemukakan oleh Oteng Sutisna (1993 : 205) “organisasi yakni mekanisme yang mempersatukan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan.” Definisi ini menekankan pada mekanisme kerja dalam organisasi untuk mencaoai tujuan organisasi.[9]
                  Pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa “ organisasi adalah hubungan struktural yang mengikat dan kerangka dasar tempat  individu-individu dikoordinasi yang di dalamnya dilakukan pembagian kerja, karena adanya bidang kerja yang harus diselesaikan dan adanya orang-orang yang wajib menunaikan tugas tertentu.” Batasan-batasan relatif dapat diidentifikasi untuk membedakan anggota dengan bukan anggota dalam organisasi. Dilihat dari konsepnya organisasi adalah institusi atau wadah sebagai suatu unit yang terkoordinasi terdiri setidaknya dua oarang yang berfungsi mencapai satu sasaran tertentu atau serangkaian sasaran.[10]
                  Dari beberapa pengertian tersebut, organisasi adalah sebuah wadah, tempat, atau sistem untuk melakukan kegiatan bersama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan pengorganisasian (organizing) merupakan proses pembentukan wadah/sistem dan penyususnan anggota dalam bentuk struktur organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Jika dikaitkan dengan pendidikan (organisasi pendidikan), organisasi adalah tempat untuk melakukan aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Sedangkan pengorganisasian pendidikan adalah sebuah proses pembentukan tempat atau sistem dalam rangka melakukan kegiatan kependidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.[11]
G.    Tujuan dan Manfaat Organisasi Pendidikan
                  Pendidikan sebagai sebuah organisasi harus dikelola sedemikian rupa agar aktivitas pelaksanaan program pendidikan dapat berjalan secara efektif,efisien,dan produktif untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian, diantara tujuan dan manfaat organisasi pendidikan adalah sebagai berikut :
1.      Mengatasi keterbatasan kemampuan, kemauan, dan sumber daya yang dimiliki dalam mencapai tujuan pendidikan.
2.      Terciptanya efektivitas dan efisiensi organisasi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
3.      Dapat menjadi wadah pengembangan potensi dan spesialisasi yang dimiliki.
4.      Menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan.
H.    Aspek-aspek Organisasi
            Aspek-aspek dalam organisasi adalah komponen-komponen yang harus ada dalam suatu organisasi. Keberadaan komponen ini sebagai pilar dari suatu organisasi. Artinya jika salah satu komponen organisasi tidak berfungsi, maka organisasi tidak akan berjalan sama sekali. Dalam organisasi setidaknya harus memiliki empat komponen utama, yaitu : mission (misi), goals (tujuan-tujuan), objectives (sasaran-sasaran), dan behavior (perilaku).
            Mission adalah alasan utama keberadaan suatu organisasi. Goals adalah tujuan-tujuan umum atau tujuan divisi-divisi fungsional organisasi yang dihubungkan dengan stakeholder organisasi. Objectives adalah hasil/sasaran yang spesifik, terukur dan terkait dengan tujuan.Behavior mengacu pada produktivitas dari tugas-tugas rutin pegawai. Pertanggungjawaban perilaku dalam pencapaian tujuan merupakan fungsi personalia.
            Keberadaan suatu organisasi tidak akan lepas dari empat komponen tersebut di atas. Jika suatu organisasi tidak memiliki sasaran yang harus dicapai oleh setiap orang dalam organisasi, maka mereka akan kebungungan mengenai apa dan bagaimana perilaku yang harus dimunculkan oleh pegawai. Jika suatu organisasi tidak memiliki misi yang harus dilakukan, maka orang-orang dalam organisasi akan kebingungan mengenai tujuan apa yang harus dicapai oleh organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa empat komponen organisasi tersebut saling terkait satu sama lain.
I.       Jenis-jenis Organisasi
                   Perkembangan kajian organisasi diawali dari kajian organisasi sebagai organisasi formal, yaitu organisasi yang didesain untuk mencapai tujuan bersama. Perkembangan ini terus berlangsung dan berbagai studi keorganisasian terus dilakukan. Perkembangan inilah pada akhirnya memunculkan organisasi informal sebagai implikasi dari adanya organisasi formal.
a.    Organisasi Formal
                   Organisasi formal adalah organisasi yang dicirikan oleh struktur organisasi. Keberadaan struktur organisasi menjadi pembeda utama antara organisasi formal dan informal. Struktur dalam organisasi formal dimaksudkan untuk menyediakan penugasan kewajiban dan tanggung jawab kepada personil dan untuk membangun hubungan tertentu diantara orang-orang pada berbagai kedudukan.
                   Srtuktur dalam organisasi formal memperlihatkan unsur-unsur administratif sebagai berikut :
1)        Kedudukan. Struktur menggambarkan letak/posisi setiap orang dalam organisasi tanpa kecuali. Kedudukan seseorang dalam struktur organisasi mencerminkan sejumlah kewajiban sebagai bagian dari upaya pencapaian tujuan dan hal-hak yang dimiliki saceara formal dalam posisi yang didudukinya. Sebagai contoh,  kepala sekolah adalah salah satu contoh kedudukan dalam struktur organisasi sekolah. Kedudukan sebagai kepala sekolah ini mencerminkan adanya sejumlah kewajiban yang harus dilakukan pemangku jabatan sebagai pimpinan dan manajer sekolah, juga memperlihatkan adanya hak-hak yang diterima sacara formal manakala seseorang menjabat sebagai kepala sekolah.
2)        Hierarki Kekuasaan. Struktur digambarkan sebagai suatu rangkaian hubungan antara satu orang dengan orang lainnya dalam satu organisasi. Rangkaian hubungan ini mencerminkan suatu hirarki kekuasaan yang inheren dalam setiap kedudukan. Tanggung jawab merupakan suatu istilah yang melekat dalam setiap kedudukan dan hirarki kekuasaan di dalam organisasi. Adanya hirarki kekuasaan menunjukkan bahwa pencapaian tujuan organisasi dibagi kepada berbagai komponen organisasi dan implementasi secara sinergi melalui hirarki kekuasaan masing-masing yang dikoordinasikan dan dipimpin oleh manajer puncak. Dalam organisasi persekolahan, hirarki kekuasaan tertinggi adalah kepala sekolah.
3)        Kedudukan garis dan staf. Organisasi garis menegaskan struktur pengambilan keputusan, jalan permohonan dan saluran komunikasi resmi untuk melaporkan informasi dan mengeluarkan instruksi, perintah, dan petunjuk pelaksanaan. Kedudukan garis ialah kedudukan yang diserahi kekuasaan administrative umum dalam arus langsung dari tempat paling atas ke tempat paling bawah. Kedudukan staf mewakili keahlian-keahlian khusus yang diperlukan bagi berfungsinya kedudukan garis tertentu dengan pasti.[12]Bentuk/skema struktur organisasi formal dapat berbentuk piramidal,mendatar,atau melingkar.[13]
b.      Organisasi Informal
            Sulit mendefinisikan organisasi informal, akan tetapi keberadaan dan karakteristiknya sangat akrab ditengah-tengah masyarakat kita. Karakteristik organisasi informal ini adalah adanya norma perilaku, tekanan untuk menyesuaikan diri, dan adnya kepemimpinan informal.
            Kepemimpinan informal dalam organisasi informal menjadi salah satu komponen yang kuat  mempengaruhi orang-orang di dalm organisasi, bahkan memungkinkan melebihi pengaruh pemimpin organisasi formal. Pemimpin informal muncul dari kelompok dan membimbing serta mengarahkan melalui persuasi dan pengaruh. Kepemimpinan dalam organisasi informal sangat kuat mempengaruhi perilaku orang-orang karena inilah kepemmimpinan yang sesungguhnya, dimana seseorang dipatuhi bukan karena memiliki jabatan, tetapi ada kelebihan yang secara alamiah dan mampu mempengaruhi orang lain tanpa paksaan.






                [1] Didin Kurniadin dan Imam Machali,  Manajemen Pendidikan : Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendiidikan, (Jogjakarta: Ar Ruzz Mdia, 2012), hlm.130.
                [2] Ibid, hlm. 139.
                [3] Mulyadi,Sistem Terpadu Pengelolaan Kinerja Personal Berbasis Balance Scorecard,(Yogyakarta:YKPN,2007),hlm.79
                [4] Didin Kurniadi dan Imam Machali, Op.cit., hlm. 145
                [5] B. Swanto, Pengantar Manajemen, , (Jakarta: PT Bumi Aksara,2010), hlm. 45
                [6] Didin Kurniadi dan Imam Machali, Op.cit., hlm.172
                [7]http://finaniswati.blogspot.co.id/2015/10/perencanaan-dan-pengorganisasian.html
                [8] Didin Kurniadin dan Imam Machali,Op.cit.,hlm. 239
                [9] Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Oendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan,(Bandung : Alfabeta, 2010), hlm. 69
                [10] Syaiful Sagala, Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan,(Bandung : Alfabeta,2010),hlm .78
                [11] Didin Kurniadin dan Imam Machali, Op. cit., hlm.240
                [12]Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Oendidikan Indonesia, Op. cit., hlm.70
                [13] Didin Kurniadin dan Imam Machali, Op. cit., hlm.243

Tidak ada komentar:

Posting Komentar