BAB II
PERENCANAAN
DAN PENGORGANISASIAN
DALAM PENDIDIKAN
A.
Pengertian Dasar Perencanaan Pendidikan
Perencanaan
pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses yang sistematis dalam rangka
mempersiapkan kegiatan-kegiatan di masa mendatang dalam bidang pendidikan. Udin
dan Abin mendefinisikan perencanaan pendidikan sebagai sebuah penerapan yang
rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan
agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan
tujuan para peserta didik dan masyarakatnya.[1]
Dari pengertian
tersebut, dapat dipahami bahwa perencanaan pendidikan mempunyai berbagai unsur
penting, yaitu:
1.
Perencanaan pendidikan menggunakan analisis yang bersifat rasional
dan sistematik. Hal ini menyangkut metodologi dalam perencanaan.
2.
Perencanaan pendidikan terkait dengan pembanguna pendidikan yang
dilakukan dalam rangka reformasi pendidikan, Tujuannya adalah mencapai tujuan
pendidikan yang dicita-citakan.
3.
Perencanaan pendidikan merupakan kegiatan yang kontinu.
4.
Perencanaan pendidikan menyangkut aspek internal dan eksternal dari
keorganisasian sistem pendidikan nasional.
5.
Perencanaan pendidikan mempertimbangkan prinsip efektifitas dan
efisiensi.
Persoalan-persoalan yang dibahas
dalam perencanaan pendidikan mencakup (1) tujuan: apakah yang akan dicapai
dengan perencanaan tersebut; (2) posisi sistem pendidikan: bagaimanakah keadaan
sistem pendidikan sekarang; (3) alternatif kebijakan dan prioritas untuk
mencapai tujnuan; (4) strategi; penentuan cara yang terbaik untuk mencapai
tujuan.Karakteristik perencanaaan pendidikan ditentukan oleh konsep dan
pemahaman tentang pendidikan. Pendidikan mempunyai ciri unik dalam kaitannya
dengan pembangunan nasional dan mempunyai ciri-ciri khas karena yang menjadi
muara garapannya adalah manusia sehingga perencanaan pendidikan mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Perencanaan pendidikan harus mengutamakan nilai-nilai manusiawi.
2.
Perencanaan pendidikan harus memberi kesempatan untuk mengembangkan
segala potensi peserta didik seoptimal mungkin.
3.
Perencanaan pendidikan harus memberikan kesempatan yang sama bagi
setiap peserta didik.
4.
Perencanaan pendidikan harus komprehensif dan sistematis.
5.
Perencanaan pendidikan harus diorientasikan pada pembangunan, dalam
pengertian bahwa program pendidikan haruslah ditujukan untuk membantu
mempersiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh berbagai sektor
pembangunan.
6.
Perencanaan pendidikan harus dikembangkan dengan memperhatikan
keterkaitannya dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis.
7.
Perencanaan pendidikan harus menggunakan sumber daya secermat
mungkin sebab sumber daya yang tersedia langka.
8.
Perencanaan pendidikan harus berorientasi pada masa depan.
9.
Perencanaan pendidikan harus responsif terhadap kebutuhan yang
berkembang di masyarakat.
10.
Perencanaan pendidikan harus merupakan sarana untuk mengembangkan
inovasi pendidikan sehingga pembaruan terus-menerus berlangsung.
B.
Ruang Lingkup Perencanaan
Ruang lingkup perencanaan
dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitudimensi waktu, dimensi spasial dan dimensi
tingkatan teknis perencanaan. Ketiga dimensi ini sangat terkait antara satu dan
lainnya. Penjelasan mengenai ketiga dimensi dalam ruang lingkup perencanaan
tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut :[2]
|
No
|
Dimensi
Perencanaan
|
Ruang
Lingkup
|
Keterangan
|
|
1
|
Dimensi
Waktu
|
Perencanaan
jangka panjang
|
Biasanya
berjangka waktu 10 tahun keatas. Pada perencanaan ini belum ditampilkan
sasaran-sasaran kuantitatif, tetapi lebih kepada proyeksi atau perspektif
atas keadaan ideal yang diinginkan dan pencapaian tujuan yang bersifat
fundamental.
Contohnya:
Propenas.
|
|
|
|
Perencanaan
jangka menengah
|
Biasanya
berjangka waktu 3-8 tahun. Di Indonesia biasanya 5 taqhun. Perencanaan jangka
menengah merupakan penjabaran dari perencanaan jangka panjang. Meski
perencanaan jangka menengah ini masih bersifat umum, sudah ditampilkan
sasaran-sasaran yang diproyeksikan szecara kuantitatif.
Contohnya:
Propeda.
|
|
|
|
Perencanaan
jangka pendek
|
Perencanaan
yang jangka waktunya kurang maksimal 1 tahun. Perencanaan ja ngka pendek
tahunan disebut
juga perencanaan operasional.
|
|
2
|
Dimensi
spasial terkait dengan ruang dan batasan wilayah
|
Perencanaan
nasional
|
Sebuah
proses penyusunan perencanaan yang berskala nasional. Contohnya:Perencanaan
pendidikan nasional (Propenas)
|
|
|
|
Perencanaan
regional
|
Perencanaan
antar sektor dan hubungan antar sektor dalam suatu wilayah. Perencanaan ini
juga sering disebut dengan Perencanaan daerah atau wilayah.Conyohya: Propeda
dan perencanaan pendidikan di provinsi.
|
|
|
|
Perencanna
tata ruang
|
Perencanaa
yang mengupayakan pemanfaatan fungsi kawasan tertentu,menhembangkanyya
secaqra seimbang baik secara ekologis, geografis, maupun demografis.
Contoh: perencanaan tata kota.
|
|
3
|
Dimensi
tingkatan teknis perencanaan.
|
Perencanaan
makro
|
Perencanaan
makro adalah perencanaan tentang
ekonomi dan non ekonomi secara intensif dan eksternal. Dalam merencanakan
pembangunan pendidikan nasional, sebelum dilaksanakan proses perencanaan
pendidikan terlebih dahulu diperlukan perencanaan makro yang menggambarkan
kerangka makro pendidikan yang berinteraksi satu dan lainnya.
|
|
|
|
Perencanaan
Mikro
|
Perencanaa
yang disusun dan disesuaikanb dengan kondisi otonomi daerah bidang
pendidikan.
|
|
|
|
Perencanaan
sektoral
|
Kumpulan
program-program dan kegiatan-kegiatan pendidikan yang mempunyai persamaan
ciri-ciri dan tujuan.
|
|
|
|
Perencanaan
kawasan
|
Perencanaan
yang memperhatikan keadaan lingkungan kawasan tertentu sebagai pusat
kegiatandengan keunggulan komparatif dan kompetitif tertentu. Contohnya::
Perencanaan pendidikan kawasan Indonesia timur.
|
|
|
|
Perencanaan
proyek
|
Perencanaan
operasional yang menyaqngkut operasionalisasi kebijakan dan pemnbangunan
dalam rangka mencapai tujuan sasaran sektor dan tujuan pembangunan.
Perencanaan
ini menjawab SIABIDIBAM
(siapa, melakukan apa,
bilamana, dimana, bagaimana dan mengapa).
|
C.
Dasar dan
Filosofi Perencanaan Pendidikan
1.
Hakikat
Perencanaan Pendidikan
Inti perencanaan adalah sebuah usaha
merancang dan memilih pada waktu sekarang untuk sesuatu yang ingin diwujudkan
di masa akan datang (choosing our disired future today). Perencanaan
dalam konteks pendidikan berarti pemilihan atau penentuan program / strategi
atau langkah yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang ditetapkan.
Perencanaan pendidikan yang dilakukan pada dasarnya adalah wujud tanggung jawab
dari berbagai alternatif pilihan yang ada dalam kehidupan. Setiap pilihan yang
di ambil pasti mempunyai konsekuensi dari apa yang di pilih. Oleh karena
itulah, memilih untuk merencanakan sesuatu dan menyadari akan konsekuensi yang
akan hadir merupakan bentuk tanggung jawab kemanusiaan.
Hakikat perencanaan pendidikan juga
dapat berarti sebuah proses pembuatan peta atau route perjalanan kearah masa
depan pendidikan yang di inginkan. Sebagai sebuah proses, perencanaan
pendidikan terus akan berjalan tanpa henti, ia akan terus berkembang,
memperbarui, dan menyesuaikan diri sepanjang proses perjalanan tersebut.
2.
Pentingnya
Perencanaan Pendidikan
Mengapa kita perlu merencanakan masa
depan? Mulyadi memberikan empat jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu:
1)
karena kita adalah
manusia;
2)
karena hanya
masa depanlah yang dapat kita pilih;
3)
karena
perencanaanlah yang menjanjikan hasil baik (good result);
4)
karena kita
dapat memusatkan perhatian pada hal-hal penting secara tidak mendesak.
3.
Perencanaan
Menjanjikan Hasil Baik
Perencanaan yang baik dan komitmen
menjalankan dengan serius akan menghasilkan sesuatu yang baik. Perencanaan
dalam konteks pendidikan menunjukkan bahwa sebuah perencanaan yang baik akan
menghasilkan sesuatu yang baik pula.Perencanaan memusatkan hal-hal penting
secara tidak mendesak. Perencanaan menjadikan keputusan-keputusan penting tidak
dilaksanakan secara mendadak, tetapi dengan penuh persiapan dan
pertimbangan-pertimbangan. Melalui perencanaan, akan di analisis
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa akan datang dan kemudian di
persiapkan strategi menghadapinya.
4.
Falsafah
Perencanaan Pendidikan
Terjadi pergeseran falsafah dalam
perencanaan, yaitu dari perencanaan yang didasarkan pada falsafah creating
the future from the past atau plan forward ke falsafah baru, yaitu creating
the future from the future atau plan backward.Perencanaan falsafah creating
the future from the past menggunakan anggapan bahwa apa yang terjadi dimasa
lalu akan terjadi kembali di masa akan datang sehingga jika organisasi
melakukan studi atas pola peristiwa masa lalu, pola peristiwa di masa lalu
tersebut diharapkan berulang kembali di masa depan. Oleh karenanya, perencanaan
dengan falsafah creating the future from the past kurang menjanjikan
masa depan karena keterputusan masa lalu dengan masa depan.
Perencanaan dengan falsafah creating
the future from the future pada intinya adalah usaha penerjemahan visi,
misi, dan tujuan (goal) organisasi yang dilakukan dengan proses analisis
eksternal-internal, trendwatching, envisioning, dan pemilihan
strategi kedalam aksi tindakan (action plan).[3]
Dalam konten pendidikan, falsafah ini berarti berusaha menghadirkan masa depan
pendidikan yang direncanakan pada saat ini, melakukan perilaku-perilaku
pendidikan masa depan pada masa sekarang. Hal ini tentu berangkat dari hasil
analisis, pembacaan tren (trendwatching) dan envisioning dalam
hal pendidikan.
5.
Prinsip-Prinsip
Mental dalam Perencanaan
Perencanaan yang efektif hanya akan
terlaksana jika setiap dari anggota dalam organisasi mempunyai kesadaran tinggi
tentang pentingnya perencanaan dalam membangun masa depan. Terdapat tiga sikap
yang menjadi prinsip mental setiap anggota individu organisasi dalam membangun
perencanaan yang efektif yaitu :
1)
Kesadaran diri
(self awareness), dalam pengertian adanya kesadaran bahwa kita
sendirilah yang menjadi penentu masa depan kita (we are the creator of our
own future);
2)
Tanggung jawab
(responsibility) , dalam pengertian memiliki tanggung jawab untuk
menuliskan masa depan yang di kehendaki dan langkah-langkah yang akan ditempuh
untuk mewujudkannya (we are responsible for writing our own script).
3)
Intregritas (intregity) adalah kemampuan seseorang
untuk mewujudkan yang telah direncanakannya, intregritas menurut kewajiban
bahwa kitalah yang berkewajiban untuk mewujudkan apa yang telah kita rencanakan
(we have an obligation to live our own script).
Ketiga prinsip mental tersebut menjadi
landasan dalam pelaksanaan perencanaan. Sebuah perencanaan yang baik (good
planning) tanpa didasari oleh sikap mental (mindsets) kesadaran
diri, tanggung jawab integritas yang kuat tidak akan pernah menjadi kenyataan.[4]
D.
Proses
Perencanaan Pendidikan
Perencanaan
sebagai suatu proses adalah suatu cara yang sistematis untuk menjalankan suatu
pekerjaan. Dalam perencanaan terkandung suatu aktivitas tertentu yang saling
berkaitan untuk mencapai hasil tertentu yang diinginkan.[5]
Langkah-langkah dalam proses perencanaan
pada umumnya mencakup bbeberapa tahap, yaitu pengumpulan dan pemrosesan data,
diagnosis, perumusan kebijakan, perkiraan kebutuhan masa mendatang, pembiayaan
dari kebutuhan, penentuan target, perumusan rencana, perincian rencana,
pelaksanaan rencana, penilaian, dan revisi perencanaan kembali.[6]
E.
Model
Perencanaan Pendidikan
Beberapa model
perencanaan pendidikan menurut Nanang Fattah:
1.
Model
Perencenaan Komprehensif
Model ini
dipergunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan
secara keseluruhan.
2.
Model Target
Setting
Model ini
diperlukana dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat
perkembangan dalam kurung waktu tertentu.
3.
Model Kosting
(Pembiayaan) dan Keefektifan Biaya
Model ini
sering diperguanakan untuk menganalisis proyek-proyek dalam kriteria efisien
dan efektifitas ekonomis. Model ini dipergunakan dalam pendidikan didasarkan
pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak lepas dari masalah pembiayaan. Dan
dengan jumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan dalam
kurung waktu tertentu dapat memberikan benefit.
4.
Model Planning
Programming Budgetting System (PPBS) memandang bahwa sistem perencanaan, penyusunan
program dan penganggaran dipandang sebagai suatu sistem yang tak terpisahkan
satu sama lainnya.[7]
F. Pengertian
Organisasi Pendidikan
Istilah organisasi secara
etimologi berasal dari bahasa latin organum yang berarti alat. Sedangkan
organize (bahasa Inggris) berarti mengorganisasikan yang menunjukkan
tindakan atau usaha untuk mencapai sesuatu. Organizing
(pengorganisasian) menunjukkan sebuah proses untuk mencapai sesuatu. Organisasi
sebagai salah satu fungsi manajemen sesungguhnya telah banyak didefinisikan
oleh para ahli.[8]
Gibson, Ivancevich, dan
Donnelly (1996:6) mendefinisikan organisasi sebagai “ wadah yang memungkinkan
masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu
secara sendiri-sendiri.”Lebih jauh ketiganya menyebutkan bahwa organisasi
adalah suatu unit terkoordinasi terdiri setidaknya dua orang berfungsi mencapai
satu sasaran tertentu atau serangkaian sasaran. Definisi ini menekankan pada
upaya peningkatan pencapaian tujuan bersama secara lebih efektif dan efisien
melalui koordinasi antar unit organisasi.
Stephen P. Robbins (1994:4)
mendefinisikan organisasi : “kesatuan (entity) sosial yang
dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relative dapat
diidentifikasikan, yang bekerja atas dasar yang relative terus menerus untuk
mencapai satu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.” Definisi dari Robbins
tersebut menekankan bahwa organisasi adalah suatau sistem sosial yang perlu
dikooordinasi dalam arti perlu manajemen. Batasan organisasi menurut Robbins
akan berubah sebagaimana tuntutan lingkungan organisasi, sehingga dikatakan
“relatif.”
Definisi lain mengenai organisasi
dikemukakan oleh Oteng Sutisna (1993 : 205) “organisasi yakni mekanisme yang
mempersatukan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan.”
Definisi ini menekankan pada mekanisme kerja dalam organisasi untuk mencaoai
tujuan organisasi.[9]
Pendapat para ahli tersebut
dapat disimpulkan bahwa “ organisasi adalah hubungan struktural yang mengikat
dan kerangka dasar tempat
individu-individu dikoordinasi yang di dalamnya dilakukan pembagian
kerja, karena adanya bidang kerja yang harus diselesaikan dan adanya
orang-orang yang wajib menunaikan tugas tertentu.” Batasan-batasan relatif
dapat diidentifikasi untuk membedakan anggota dengan bukan anggota dalam
organisasi. Dilihat dari konsepnya organisasi adalah institusi atau wadah
sebagai suatu unit yang terkoordinasi terdiri setidaknya dua oarang yang
berfungsi mencapai satu sasaran tertentu atau serangkaian sasaran.[10]
Dari beberapa pengertian
tersebut, organisasi adalah sebuah wadah, tempat, atau sistem untuk melakukan
kegiatan bersama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan
pengorganisasian (organizing) merupakan proses pembentukan wadah/sistem
dan penyususnan anggota dalam bentuk struktur organisasi untuk mencapai tujuan
organisasi. Jika dikaitkan dengan pendidikan (organisasi pendidikan),
organisasi adalah tempat untuk melakukan aktivitas pendidikan untuk mencapai
tujuan pendidikan yang diinginkan. Sedangkan pengorganisasian pendidikan adalah
sebuah proses pembentukan tempat atau sistem dalam rangka melakukan kegiatan
kependidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.[11]
G. Tujuan
dan Manfaat Organisasi Pendidikan
Pendidikan sebagai sebuah
organisasi harus dikelola sedemikian rupa agar aktivitas pelaksanaan program
pendidikan dapat berjalan secara efektif,efisien,dan produktif untuk mencapai
tujuan yang diinginkan. Dengan demikian, diantara tujuan dan manfaat organisasi
pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Mengatasi
keterbatasan kemampuan, kemauan, dan sumber daya yang dimiliki dalam mencapai
tujuan pendidikan.
2. Terciptanya
efektivitas dan efisiensi organisasi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
3. Dapat
menjadi wadah pengembangan potensi dan spesialisasi yang dimiliki.
4. Menjadi
tempat pengembangan ilmu pengetahuan.
H. Aspek-aspek
Organisasi
Aspek-aspek
dalam organisasi adalah komponen-komponen yang harus ada dalam suatu
organisasi. Keberadaan komponen ini sebagai pilar dari suatu organisasi.
Artinya jika salah satu komponen organisasi tidak berfungsi, maka organisasi
tidak akan berjalan sama sekali. Dalam organisasi setidaknya harus memiliki
empat komponen utama, yaitu : mission (misi), goals (tujuan-tujuan), objectives
(sasaran-sasaran), dan behavior (perilaku).
Mission
adalah alasan utama keberadaan suatu organisasi. Goals adalah
tujuan-tujuan umum atau tujuan divisi-divisi fungsional organisasi yang
dihubungkan dengan stakeholder organisasi. Objectives adalah
hasil/sasaran yang spesifik, terukur dan terkait dengan tujuan.Behavior
mengacu pada produktivitas dari tugas-tugas rutin pegawai. Pertanggungjawaban perilaku
dalam pencapaian tujuan merupakan fungsi personalia.
Keberadaan
suatu organisasi tidak akan lepas dari empat komponen tersebut di atas. Jika
suatu organisasi tidak memiliki sasaran yang harus dicapai oleh setiap orang
dalam organisasi, maka mereka akan kebungungan mengenai apa dan bagaimana
perilaku yang harus dimunculkan oleh pegawai. Jika suatu organisasi tidak
memiliki misi yang harus dilakukan, maka orang-orang dalam organisasi akan
kebingungan mengenai tujuan apa yang harus dicapai oleh organisasi. Hal ini
menunjukkan bahwa empat komponen organisasi tersebut saling terkait satu sama
lain.
I. Jenis-jenis
Organisasi
Perkembangan kajian
organisasi diawali dari kajian organisasi sebagai organisasi formal, yaitu organisasi
yang didesain untuk mencapai tujuan bersama. Perkembangan ini terus berlangsung
dan berbagai studi keorganisasian terus dilakukan. Perkembangan inilah pada
akhirnya memunculkan organisasi informal sebagai implikasi dari adanya
organisasi formal.
a. Organisasi Formal
Organisasi formal adalah
organisasi yang dicirikan oleh struktur organisasi. Keberadaan struktur
organisasi menjadi pembeda utama antara organisasi formal dan informal.
Struktur dalam organisasi formal dimaksudkan untuk menyediakan penugasan
kewajiban dan tanggung jawab kepada personil dan untuk membangun hubungan
tertentu diantara orang-orang pada berbagai kedudukan.
Srtuktur dalam organisasi
formal memperlihatkan unsur-unsur administratif sebagai berikut :
1)
Kedudukan. Struktur menggambarkan
letak/posisi setiap orang dalam organisasi tanpa kecuali. Kedudukan seseorang
dalam struktur organisasi mencerminkan sejumlah kewajiban sebagai bagian dari
upaya pencapaian tujuan dan hal-hak yang dimiliki saceara formal dalam posisi
yang didudukinya. Sebagai contoh, kepala
sekolah adalah salah satu contoh kedudukan dalam struktur organisasi sekolah.
Kedudukan sebagai kepala sekolah ini mencerminkan adanya sejumlah kewajiban
yang harus dilakukan pemangku jabatan sebagai pimpinan dan manajer sekolah,
juga memperlihatkan adanya hak-hak yang diterima sacara formal manakala
seseorang menjabat sebagai kepala sekolah.
2)
Hierarki Kekuasaan. Struktur
digambarkan sebagai suatu rangkaian hubungan antara satu orang dengan orang
lainnya dalam satu organisasi. Rangkaian hubungan ini mencerminkan suatu
hirarki kekuasaan yang inheren dalam setiap kedudukan. Tanggung jawab merupakan
suatu istilah yang melekat dalam setiap kedudukan dan hirarki kekuasaan di
dalam organisasi. Adanya hirarki kekuasaan menunjukkan bahwa pencapaian tujuan
organisasi dibagi kepada berbagai komponen organisasi dan implementasi secara
sinergi melalui hirarki kekuasaan masing-masing yang dikoordinasikan dan
dipimpin oleh manajer puncak. Dalam organisasi persekolahan, hirarki kekuasaan
tertinggi adalah kepala sekolah.
3)
Kedudukan garis dan staf. Organisasi
garis menegaskan struktur pengambilan keputusan, jalan permohonan dan saluran
komunikasi resmi untuk melaporkan informasi dan mengeluarkan instruksi,
perintah, dan petunjuk pelaksanaan. Kedudukan garis ialah kedudukan yang
diserahi kekuasaan administrative umum dalam arus langsung dari tempat paling
atas ke tempat paling bawah. Kedudukan staf mewakili keahlian-keahlian khusus
yang diperlukan bagi berfungsinya kedudukan garis tertentu dengan pasti.[12]Bentuk/skema
struktur organisasi formal dapat berbentuk piramidal,mendatar,atau melingkar.[13]
b. Organisasi
Informal
Sulit mendefinisikan organisasi
informal, akan tetapi keberadaan dan karakteristiknya sangat akrab
ditengah-tengah masyarakat kita. Karakteristik organisasi informal ini adalah
adanya norma perilaku, tekanan untuk menyesuaikan diri, dan adnya kepemimpinan
informal.
Kepemimpinan informal dalam
organisasi informal menjadi salah satu komponen yang kuat mempengaruhi orang-orang di dalm organisasi,
bahkan memungkinkan melebihi pengaruh pemimpin organisasi formal. Pemimpin
informal muncul dari kelompok dan membimbing serta mengarahkan melalui persuasi
dan pengaruh. Kepemimpinan dalam organisasi informal sangat kuat mempengaruhi
perilaku orang-orang karena inilah kepemmimpinan yang sesungguhnya, dimana
seseorang dipatuhi bukan karena memiliki jabatan, tetapi ada kelebihan yang
secara alamiah dan mampu mempengaruhi orang lain tanpa paksaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar